Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Kamis, 28 Juli 2016

KEGAWATAN PERNAPASAN (Bagian I)


Gangguan jalan napas (airway) dan perrnapasan (breathing) merupakan prioritas utama yang harus segera ditangani pada korban dengan adanya denyut nadi. Hal tersebut dikarenakan masalah airway and breathing akan lebih cepat membunuh korban dibanding masalah sirkulasi. Pengelolaan masalah airway and breathing pada kegawatdaruratan trauma dibahas secara lengkap pada pelatihan Basic Trauma Life Support (BTLS). Materi penanganan masalah airway and breathing pada konsep BTLS mencakup teknik identifikasi masalah jalan napas dan pernapasan secara cepat dan tepat serta pengelolaan masalah jalan napas dan pernapasan. Penanganan masalah jalan napas dibahas mulai dari teknik pembebasan jalan napas secara manual (tanpa alat), dengan alat hingga airway definitif. Selain itu, teknik-teknik dalam pengelolaan awal pada gangguan pernapasan akibat trauma (tension/open pneumothorax, flail chest, tamponade jantung) juga menjadi pokok bahasan dalam pelatihan BTLS.

Namun seringkali kita menemukan pasien datang ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD) dengan berbagai keluhan pernapasan. Gejala yang muncul dapat bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga gejala yang mengancam nyawa. Sangat penting untuk mengenali tanda peringatan dini dan memberikan intervensi segera sebelum terjadi masalah pernapasan yang lebih serius. Sehingga disamping konsep-konsep penanganan airway and breathing yang sudah dijelaskan di atas, juga perlu untuk memahami kegawatan pernapasan pada kasus-kasus yang lebih spesifik. Pada artikel kali ini, kasus-kasus kegawatan pernapasan yang akan dibahas diantaranya bronkitis akut, pneumonia, dan asma. Sedangkan kasus-kasus lainnya seperti Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), emfisema, bronkitis kronik, emboli pulmonal, edema pulmonal dan lain-lain akan dibahas pada artikel selanjutnya.

a.    Bronkitis Akut
Bronkitis akut adalah gangguan pernapasan yang diakibatkan oleh adanya proses peradangan pada cabang bronkus. Penyebab bronkitis akut biasanya disebabkan oleh virus, diantaranya virus influenza A dan B, parainfluenza virus, respiratory syncytial virus, rhinovirus, coxsackie virus dan adenovirus. Infeksi sekunder juga dapat menyebabkan penyebab pada bronchitis akut. Pasien biasanya mengeluh sakit tenggorokan, hidung tersumbat, dan batuk. Pada fase awal, terjadi batuk kering, non produktif, dan dapat memburuk pada malam hari. Setelah beberapa hari, batuk dapat menjadi produktif. Produksi sputum berwarna hijau/kuning mengindikasikan adanya reaksi inflamasi dan tidak selalu berarti adanya infeksi bakteri.  Gejala lain yang dapat muncul diantaranya demam, nyeri dada dan lelah.

Pengelolaan pasien dengan bronkitis akut terutama untuk mengatasi gejala yang timbul.
Pengelolaan tersebut diantaranya dengan peningkatan intake cairan, hindari merokok, pemberian analgetik/antipiretic, antitusive (dapat meringankan batuk tetapi tidak mengurangi durasi kesakitan). Bronkodilator dapat bermanfaat bagi pasien dengan adanya wheezing. Pemberian antibiotik tidak direkomendasikan, kecuali jika ada infeksi sekunder. Kortikosteroid (inhalasi atau oral) tidak direkomendasikan karena tidak ada bukti cukup untuk terapi bronchitis akut.

b.   Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan akut pada parenkim paru, bronkiolus, respiratorius dan alveoli yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau jamur. Peradangan tersebut menimbulkan konsolidasi jaringan paru sehingga dapat mengganggu pertukaran oksigen dan karbondioksida di paru-paru. Pada perkembangannya, pneumonia dibagi menjadi dua berdasarkan tempat terjadinya infeksi, yaitu pneumonia masyarakat (community-acquired pneumonia/CAP) bila infeksi terjadi di masyarakat, dan pneumonia-rumah sakit atau pneumonia nosokomial (hospital acquired pneumonia/HAP), bila infeksinya didapat di rumah sakit.

Infeksi sering terjadi pada saluran napas bagian atas, telinga atau mata. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan pneumonia, diantaranya gangguan jantung dan paru-paru, gangguan fungsi imun, cystic fibrosis, kelainan esofagial, obstruksi broncial, dan bronchiectasis. Pasien dengan imobilisasi atau bedrest dan pasien dengan patah tulang iga memiliki risiko yang lebih tinggi terkena pneumonia. Faktor risiko lain diantaranya merokok, penggunaan steroid, terapi immunosuppressive, diabetes mellitus dan terpapar pada suhu lingkungan yang ekstrim.

Pasien akan mengeluh demam, malaise, batuk, hemoptysis, dypsnea, dan gejala pleuritic chest. Beberapa pasien dengan pneumonia dapat mengalami distensi abdomen, muntah dan sakit kepala.

Penanganan pasien dengan pneumonia adalah dengan terapi oksigen, antibiotik serta monitor cairan dan keseimbangan elektrolit. Pengkajian diagnostik mencakup kultur sputum dan gram stain, rontgen dada, dan darah lengkap. Monitor saturasi oksigen penting untuk menentukan perubahan oksigenasi serta nilai gas darah. Berikan edukasi pasien dengan informasi pentingnya vaksin pneumonia dan bahaya merokok untuk mengurangi kejadian berulang.

c.    Asma
Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang bersifat reversible dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-rubah secara spontan. Asma hanya dapat dikontrol dan tidak dapat disembuhkan.

Inflamasi jalan napas dan hiperresponsif terjadi sebagai respon terhadap adanya pencetus. Pencetus tersebut dapat berupa allergen inhalasi, polusi udara, infeksi saluran napas atas, sinusitis, olahraga dan udara dingin/kering, stres, obat-obatan (aspirin, nonsteroid antiinflamasi, B-adrenergic blocker), terekspos zat kimia di tempat kerja, pengawet makanan, hormonesmenses, gastroesophageal reflux. Gejala asma sering sering terjadi pada malam hari dan saat udara dingin, biasanya bermula dengan mendadak dengan batuk dan rasa tertekan di dada, disertai dengan sesak napas (dypsnea) dan wheezing. Batuk yang dialami pada awalnya susah, namun segera menjadi kuat. Karakteristik batuk pada penderita asma adalah berupa batuk kering, paroksismal, iritatif, dan non produktif, kemudian menghasilkan sputum yang berbusa, jernih dan kental.

Diagnosis asma ditegakkan berdasarkan riwayat (gejala yang sering muncul, riwayat keluarga, alergi, dan pencetus), pemeriksaan fisik serta hasil laboratorium. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menilai adanya rhinitis, sinusitis, atau polip nasal serta adanya wheezing pada saat ekspirasi. Pemeriksaan laboraturium mencakup darah lengkap, nasal smear, dan sample sputum. Pasien diatas usia 5-tahun harus dilakukan pemeriksaan dengan spirometri yang bertujuan untuk evaluasi kapasitas udara di paru dan mengukur volume udaran inspirasi dan ekspirasi. Spirometri dapat menunjukkan adanya obstruksi dan menilai reversibilats penyempitan jalan napas.  

Tujuan perawatan asma adalah untuk menjaga agar asma tetap terkontrol yang ditandai dengan penurunan gejala asma yang dirasakan atau bahkan tidak sama sekali, sehingga penderita dapat melakukan aktivitas tanpa terganggu oleh asmanya. Pengontrolan terhadap gejala asma dapat dilakukan dengan cara menghindari alergen pencetus asma, konsultasi asma dengan tim medis secara teratur, hidup sehat dengan asupan nutrisi yang memadai, dan menghindari stres. Gejala asma dapat dikendalikan dengan pengelolaan yang dilakukan secara lengkap, tidak hanya dengan pemberian terapi farmakologis tetapi juga menggunakan terapi non farmakologis yaitu dengan cara mengontrol gejala yang timbul serta mengurangi keparahan gejala asma yang dialami ketika terjadi serangan. (Wong, 2008)

Terapi non farmakologis yang umumnya digunakan untuk pengelolaan asma adalah dengan melakukan terapi pernapasan. Terapi pernapasan bertujuan untuk melatih cara bernapas yang benar, melenturkan dan memperkuat otot pernapasan, melatih ekspektorasi yang efektif, meningkatkan sirkulasi, mempercepat dan mempertahankan pengontrolaan asma yang ditandai dengan penurunan gejala dan meningkatkan kualitas hidup bagi penderitanya.


         
Sumber
Steinmann, Rebeca A. (2010). Emergency Nursing: Principle and Practice. Sixth Edition. PhiladelphiaMosby Elsivier.

Alberta Medical Association..Guideline for The Management of Acute Bronchitis. Revised       January, 2008, from http://www.topalbertadoctors.org/download/378/acute_bronchitis_guideline.pdf?_20160223160555

Entri Populer