Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Selasa, 28 Juni 2016

Pengelolaan Pasien Trauma dengan Suspek Cedera Spinal

Tulang belakang tersusun oleh 33 ruas tulang yang disebut vertebra. Setiap vertebra dilindungi oleh corda spinal (jaringan nervus). Trauma atau patah tulang pada tulang vertebra dapat menyebabkan cedera pada corda spinal.

Adanya kemungkinan cedera spinal harus dipertimbangkan pada tiap penanganan korban dengan trauma. Cedera sekunder akibat adanya cedera spinal dapat diminimalkan bila teknik pemindahan korban dengan suspek cedera spinal dilakukan dengan tepat.

Cedera spinal dapat terjadi pada tulang belakang di bagian leher (tulang servical), bagian belakang dada (thoracic spine) dan punggung (lumbar spine). Tulang leher merupakan bagian yang paling rentan terjadinya cedera. Lebih dari setengah dari cedera tulang spinal terjadi di area cervical. Adanya cedera tulang servical harus diwaspadai, karena berhubungan dengan prinsip penanganan airway.

Mekanisme Injury
Dalam menentukan korban dengan cedera spinal, pertama kali yang harus dikaji adalah mekanisme injury. Kejadian yang paling sering menyebabkan cedera spinal diantaranya:
  • Kecelakaan kendaraan roda dua (sepeda, motor)
  • Pejalan kaki
  • Kecelakaan kerja (industrial accident)
  • Menyelam atau melompat ke dalam air yang dangkal atau air dengan ombak
  • Kecelakaan olahraga (jatuh dari kuda)
  • Jatuh dari ketinggian (contoh: tangga, atap)
  • Pukulan keraas di kepala
  • Luka tembus


Tanda dan Gejala
Tanda yang paling mudah dalam menentukan korban dengan suspek cedera spinal diantaranya:
  1. Bau feses
  2. Bau urin
  3. Priapismus (ereksi terus menerus pada korban laki-laki)

Adapun tanda lainnya yang dapat muncul diantaranya:
1. Tanda
ü Posisi abnormal leher dan kepala
ü Gangguan status mental
ü Kesulitan bernafas
ü Syok
ü Perubahan tonus otot
       2. Gejala
ü Nyeri di area yang mengalami cedera
ü Tingling, mati rasa
ü Kelemahan dan ketidakmampuan menggerakkan anggota tubuh
ü Nausea
ü Sakit kepala atau pusing
ü Gangguan atau berkurangnya sensori

Penanganan Korban dengan Suspek Cedera Spinal
Dalam menangani korban dengan suspek cedera spinal terutama dia area pra rumah sakit, maka prioritas yang harus dilakukan diantaranya:
  1.       Telepon ambulance yang medukung untuk pertolongan korban dengan trauma
  2.            Tangani airway, breathing, circulation
  3.            Penanganan spinal

Kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya cedera spinal dan penanganan korban dengan memperhatikan pergerakan tulang spinal merupakan kunci untuk meminimalkan terjadinya cedera lebih lanjut.

Pada korban sadar, beritahu korban untuk tetap tidak menggerakkan area leher dan tulang belakang. Namun penolong tidak perlu me-restrain korban yang tidak kooperatif. Tetap jaga korban pada posisi yang nyaman. Pemindahan korban dilakukan dengan meminimalkan pergerakan tulang spinal dan hal ini harus dilakukan oleh first aider/perawat/dokter yang terlatih yang dilengkapi dengan peralatan khusus.


Neck Collar pada Korban dengan Kecurigaan Cedera Servical
Baik pada korban sadar maupun tidak sadar, pengelolaan jalan napas lebih diutamakan daripada cedera tulang belakang yang dicurigai. Pertahankan jalan napas dengan tidak melakukan manipulasi tulang cervical. Bila korban mengalami snoring (sumbatan jalan napas akibat lidah jatuh), maka teknik manual yang paling tepat adalah dengan melakukan chin lift atau jaw trust. Kedua teknik tersebut efektif untuk membuka jalan napas tanpa manipulasi pada tulang cervical. Bila perlatan memadai, segera lakukan fiksasi tulang leher menggunakan cervical collar/neck collar. Lakukan pemasangan neck collar dengan tepat. Pemasangan neck collar tidak dapat dilakukan oleh satu penolong. Pemilihan neck collar yang tepat disesuaikan dengan ukuran leher korban. Penolong harus memiliki keterampilan dalam mengukur ukuran neck collar berdasarkan ukuran leher korban. 

Setelah stabilisasi masalah airway, breathing dan circulation telah dilakukan, maka pemindahan dilakukan dengan menggunakan Long Spine Board (LSB) atau alas yang keras. Teknik pemindahan dilakukan dengan cara logroll, yaitu memiringkan korban sedemikian rupa sehingga korban dimiringkan dalam posisi segaris. Kepala dan batang tubuh miring bersamaan yang dilakukan oleh 3-4 orang penolong. Hal tersebut bertujuan untuk tetap meminimalkan pergerakan pada tulang spinal dan memindahkan korban ke LSB.

Korban yang telah berada di LSB harus distrapping untuk mencegah korban jatuh dari LSB. Pemindahan dilakukan dengan tetap mengevaluasi Airway, Breathing, Circulation serta status kesadaran korban.
Pemasangan LSB pada Korban dengan Suspek Cedera Spinal

Sebagai catatan, LSB  tidak digunakan pada semua pasien trauma. Studi oleh Theodore et al dan Rozelle et al dalam International Trauma Life Support (2014) menyebutkan bahwa tidak semua pasien dengan trauma harus dilakukan imobilisasi tulang belakang. Hanya pasien trauma yang dicurigai mengalami cedera spinal dan atau cervical yang diindikasikan untuk menggunakan LSB. Penggunaan LSB yang tidak tepat dan kurang bijaksana dapat menyebabkan kerugian pada korban. Study klinis menunjukkan bahwa penggunaan LSB yang terlalu lama dapat berpotensi terhadap gangguan pernapasan, meningkatkan risiko aspirasi dan penekanan pada luka. Oleh karena itu untuk meminimalkan kerugian tersebut, pasien harus segera dipindahkan dari LSB seaman mungkin, karena LSB adalah alat ekstrikasi primer yang didesain untuk memindahkan pasien (dengan kecurigaan cedera spinal dan leher) ke stretcher. Perlu diperhatikan juga bahwa penggunaan LSB tidak diindikasikan pada pasien dengan luka tusuk pada bagian badan, kepala dan leher; terkecuali jika ada bukti klinis dari cedera tulang belakang.

Penulis: Hellda


Referensi:

Alson, Roy dan Darby Copeland. Long Backboard Use For Spinal Motion Restriction of the Trauma           Patient. International Trauma Life Support. 2014.

Australian Resuscitation Council. Management of Suspected Injury. 2016.

Pro Emergency. Basic Trauma Life Support. 2015.

Selasa, 21 Juni 2016

Pro Emergency Tetap Hadirkan BTCLS di Bulan Ramadhan 1437 H / 2016

Bogor, proemergency.com – Basic Trauma Life Support (BTLS) dan Basic Cardiovascular Life Support (BCLS) atau sering dikenal dengan BTCLS merupakan salah satu pelatihan rutin yang diadakan oleh Pro Emergency pada setiap bulannya, terkecuali di bulan Ramadhan. Namun pada Ramadhan kali ini, Pro Emergency tetap menyelenggarakan pelatihan BTCLS yang dilaksanakan mulai Selasa (14/06/2016) hingga Sabtu (18/06/2016). Hal tersebut dikarenakan adanya kebutuhan para perawat akan penyelenggaraan pelatihan BTCLS.

Simulasi  Pra rumah Sakit Penanganan Pasien dengan Trauma 
Pelatihan kali ini diawali dengan BTLS selama tiga hari (14-16 Juni 2016) disambung dengan Pelatihan BCLS selama 2 hari (17-18 Juni 2016). Adapun peserta merupakan perawat-perawat baik dari rumah sakit, puskesmas maupun fresh graduate keperawatan. Dari hasil penutupan pelatihan pada Sabtu (18/06/2016), 100% peserta dinyatakan lulus ujian evaluasi baik pada pelatihan BTLS maupun BCLS. Semangat yang luar biasa mengingat sebagian peserta sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Dalam keadaan haus dan lapar, para peserta dapat mengikuti rangkaian pelatihan dengan baik.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat terutama bagi para perawat. Semoga Pro Emergency dapat terus memberikan pelatihan yang seperti ini bagi perawat-perawat Indonesia”, ungkap Anwar, salah satu peserta yang berasal dari Manado – Sulawesi Utara.


Instruktur dan Peserta Pelatihan BTLS - BCLS / BTCLS Kelas Nasional Periode Juni 2016

Sukses untuk alumni BTLS dan BCLS / BTCLS Kelas Nasional periode Juni 2016. Semoga dapat menjadi perawat profesional yang berkontribusi bagi nusa dan bangsa. (hel)

Jumat, 10 Juni 2016

7- ALASAN PENTINGNYA PELATIHAN BTCLS BAGI PERAWAT




BTCLS merupakan pelatihan yang paling dicari di Indonesia khususnya para perawat. Mengapa demikian? Simak alasannya berikut ini!

1.    Bekal perawat dalam Penanganan Pasien Gawat Darurat Trauma dan Kardiovaskular
Membekali perawat untuk dapat memahami dan mampu melakukan  penanganan pasien dengan kegawatdaruratan trauma dan kardiovaskular baik di area pra rumah sakit, intra rumah sakit, klinik maupun puskesmas.

2.    Fresh Graduate: Salah Satu Modal  Melamar Kerja Di RS Idaman
Bagi mahasiswa tingkat akhir ataupun fresh graduate, BTCLS menjadi bekal persiapan sebelum bekerja di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Calon perawat yang memiliki sertifikasi BTCLS akan lebih diprioritaskan oleh rumah sakit yang sedang membuka lowongan.

3.   BTCLS Menjadi Salah Satu Syarat Untuk Persiapan Akreditasi RS
BTCLS menjadi salah satu pelatihan yang disyaratkan dalam daftar kebutuhan pelatihan untuk persiapan akreditasi rumah sakit.

4.   Pengumpulan SKP untuk STR
Total nilai Satuan Kredit Profesi (SKP) yang didapatkan dari pelatihan BTCLS cukup dapat mendongkrak untuk keperluan perpanjangan Surat Tanda Registrasi (STR) perawat. SKP pada pelatihan BTCLS yang berlaku untuk perpanjangan STR adalah SKP yang terakreditasi oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Nilai SKP yang didapat tergantung dari provider penyelenggara dan juga jenis pelatihannya, apakah hanya BCLS, BTLS, ataupun BTCLS. Untuk itu, sebelum Anda mengikuti pelatihan, sebaiknya juga dipastikan terlebih dahulu berapa nilai SKP yang akan diperoleh.

5.    Pendaftaran Tenaga Kerja Haji Indonesia (TKHI)



Bagi Anda yang ingin mengikuti recruitment TKHI, maka sertifikat BTCLS ini menjadi salah satu syarat berkas yang harus dilengkapi khususnya bagi perawat.

6.   Institusi Pendidikan: Meningkatkan Nilai Jual Alumnus Di Pasar Kerja
Ilmu praktis sangat penting bagi para mahasiswa terutama mahasiswa tingkat akhir. Karena tidak semua bisa didapatkan mahasiswa di bangku kuliah. BTCLS merupakan sekumpulan ilmu dan praktik yang sangat aplikatif untuk diterapkan baik area pra rumah sakit, intra rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Dengan mengikuti BTCLS, maka mahasiswa keperawatan tingkat akhir akan lebih siap untuk bekerja dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hal tersebut tentunya dapat memberi citra yang baik bagi institusi pendidikan yang memberikan pelatihan yang aplikatif bagi para mahasiswa didiknya.

7.    Bekal dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Masyarakat Ekonomi ASEAN turut mempengaruhi wajah keperawatan Indonesia. Perawat merupakan salah satu daftar prioritas yang akan dilibatkan dalam pasar MEA.  Pintu gerbang telah terbuka lebar bagi perawat yang ingin bekerja di luar negeri begitupun sebaliknya, Indonesia harus bersiap-siap akan kedatangan perawat-perawat dari luar negeri. Perawat Indonesia dituntut untuk dapat bersaing dengan perawat-perawat dari luar negeri. Pelatihan BTCLS merupakan salah satu media untuk meningkatkan kompetensi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan di era MEA.

Penulis: hellda

Selasa, 07 Juni 2016

Perawat Indonesia di Era MEA, Apa Persiapan Anda?


Perawat merupakan salah satu profesi yang masuk dalam 8-daftar profesi prioritas di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal tersebut berdasarkan hasil kesepakatan Mutual Recognition Arrangements (MRA) yang telah ditandatangani oleh negara-negara ASEAN. Sebetulnya jauh sebelum era MEA, perawat Indonesia sudah banyak yang bekerja di luar negeri, diantaranya Jepang, Dubai, Timur Tengah, Eropa, Australia, Amerika Seikat, dan Kanada. Perawat Indonesia banyak disukai di luar negeri, banyak yang membutuhkan karena cara kerjanya yang bagus, disiplin kerja yang tinggi dan attitude yang baik. Hal ini terbukti dengan tingginya permintaan tenaga perawat Indonesia. Dalam hal ini, perawat Indonesia tidak perlu cemas untuk bisa beradaptasi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), karena hal tersebut sebetulnya sudah dimiliki. Hanya saja, kita perlu untuk terus meningkatkan kompetensi baik dalam hal pengetahuan, keterampilan dan juga bahasa. Kompetensi tersebut yang sering menyebabkan perawat gagal dalam mengikuti ujian sertifikasi internasional. Sehingga walaupun permintaan tenaga perawat untuk bekerja di luar negeri cukup tinggi, namun kuota yang dapat dipenuhi masih seringkali tidak tercapai.

Pada program Government to Government (G to G) Jepang tahun 2015, Indonesia mendapatkan kuota untuk perawat sebanyak 348. Namun yang dapat dipenuhi hanya 292 perawat (80%). Padahal pendaftar lebih banyak yaitu mencapai 600 orang dari kuota yang disediakan. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), permintaan tenaga perawat untuk bekerja di luar negeri selama tahun 2010 – 2014 adalah sebanyak 15.431 orang. Dari jumlah tersebut baru terpenuhi sebesar 36%. Sementara itu, dari jumlah produksi perawat tahun 2014, sekitar 60% diantaranya didayagunakan di dalam negeri, 5% di luar negeri dan sisanya bekerja di luar kompetensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendayagunaan tenaga perawat Indonesia masih belum optimal. Masih diperlukan kerja keras untuk meningkatkan pendayagunaan tenaga perawat ke luar negeri dengan tetap memperhatikan kebutuhan di dalam negeri.

Era MEA, akan memberikan dua mata pisau  bagi wajah keperawatan Indonesia. Di satu sisi, MEA akan menjadi tantangan tersendiri bagi para perawat Indonesia. Tantangan untuk dapat bersaing dari berbagai aspek, mulai dari pendidikan, pengetahuan, keterampilan baik dalam hal hardskill maupun softskill. Keterampilan hardskill mencakup tindakan-tindakan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan bagi pasien, sementara softskill adalah keterampilan dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan pasien, rekan kerja dan lingkungan. Perawat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kultural. Sehingga tidak terjadi syok budaya pada saat bekerja di luar negeri ataupun memiliki rekan kerja yang berasal dari luar negeri. Jika kita tidak mampu bersaing pada aspek-aspek tersebut atau ada salah satu aspek yang tidak dapat dicapai, maka MEA akan menjadi ancaman tersendiri. Banyak investor-investor asing yang ingin berinvestasi di Indonesia, salah satunya adalah sektor pelayanan kesehatan. Tentunya pengadaan pelayanan kesehatan tersebut akan memiliki standar tertentu mulai dari fasilitas, pelayanan hingga sumber daya manusia. Untuk bekerja di fasyankes-fasyankes, Perawat Indonesia akan dihadapkan pada persaingan dengan perawat-perawat dari luar negeri (ASEAN). Dengan demikian jika ingin bersaing di era MEA, perawat harus terus meningkatkan kompetensi yang baik mulai dari sekarang. Peningkatan kompetensi tersebut dapat ditempuh melalui tiga aspek, yaitu pendidikan formal, pengalaman bekerja sebagai perawat maupun pendidikan non-formal.

Pendidikan formal merupakan jalur utama diakuinya seseorang sebagai seorang perawat. Pendidikan formal memberikan bukti legal seorang perawat. Mengikuti pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi akan meningkatkan wawasan dan kematangan dalam berpikir dan bersikap. Pengalaman bekerja penting untuk mengasah keterampilan dalam memberikan tindakan keperawatan asuhan keperawatan bagi pasien. Sementara pendidikan non-formal (kursus/pelatihan-pelatihan), merupakan hal yang sangat penting diikuti oleh seorang profesional. Tidak semua ilmu bisa kita dapatkan melalui pendidikan formal dan tidak semua keterampilan bisa kita dapatkan melalui pengalaman. Melalui pendidikan non-formal, seorang profesional bisa mendapatkan keduanya dalam waktu yang sangat singkat. Perawat yang sering mengikuti kursus/pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan area kerjanya akan memiliki nilai plus dibandingkan dengan perawat yang jarang mengikuti pelatihan. Dengan mengikuti pelatihan, update ilmu terbaru akan didapatkan serta akan meningkatkan kepercayaan diri dalam melakukan tindakan keperawatan. Hal tersebut dikarenakan perawat yang sering mengikuti pelatihan yakin dengan tindakan yang dilakukannya karena sudah sesuai dengan protokol terbaru yang didapatkan melalui pelatihan.


Bila ketiga aspek tersebut telah terpenuhi, langkah selanjutnya adalah terus meningkatkan wawasan dan update informasi mengenai keperawatan dan tenaga perawat, meningkatkan kemampuan ber-Bahasa Inggris serta berlatih/mempelajari materi yang diujikan dalam sertifikasi internasional, sehingga kita mengetahui standar kompetensi internasional bagi perawat. 

Penulis: hellda

Senin, 06 Juni 2016

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1437 H



Marhaban yaa Ramadhan..

Segenap Direksi dan Manajemen PRO EMERGENCY mengucapkan selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan 1437 H bagi yang menjalankan. Semoga kita senantiasa diberkahi dan dapat meraih derajat yang lebih tinggi di bulan yang penuh berkah ini.
Aamin.