Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Kamis, 14 Juli 2016

Konsep Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)

Sumber: www.keyword-suggestion.com
Apa yang akan dilakukan bila Anda menemukan penderita gawat darurat di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes)? Seringkali orang umum di sekitar jalan tidak dapat melakukan pertolongan akibat ketidaktahuan bagaimana cara menolong korban gawat darurat, atau bahkan ada juga yang berani melakukan pertolongan pada korban gawat darurat namun pertolongan yang dilakukan tidak benar sehingga menyebabkan kecacatan atau bahkan kematian.

Pertolongan pada penderita gawat darurat membutuhkan suatu sistem yang melibatkan banyak komponen yang terintegrasi, dikenal dengan Sistem Penanggulangan Gawat darurat Terpadu (SPGDT). SPGDT adalah satu sistem yang bertujuan untuk melakukan penanganan pada penderita gawat darurat dengan melibatkan seluruh komponen dan sumber daya untuk menyelamatkan jiwa penderita dan mencegah kecacatan lebih lanjut. Komponen tersebut mencakup fase pra-Fasilitas Pelayanan Kesehatan, intra Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan antar Fasilitas Pelayanan Kesehatan.


Fase Pra-Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes), mencakup:

1. First Responder
First Responder adalah orang yang pertama kali menemukan korban gawat darurat, baik itu korban kecelakaan, serangan jantung, ibu melahirkan, maupun korban tersedak. Seorang first responder meliputi orang awam (orang umum di sekitar kejadian) dan orang awam khusus (pemadam kebakaran, polisi, tim SAR). Keberadaan seorang first responder ini dapat menentukan keselamatan jiwa korban. Orang umum di sekitar kejadian sangat membantu dalam mencari pertolongan melalui pusat komunikasi. Seorang first responder terlatih dapat melakukan pertolongan pertama pada korban gawat darurat sebelum bantuan medis datang. First responder terlatih minimal harus sudah mengikuti pelatihan First Aid atau Basic Life Support (BLS).

2. Emergency Dispatch communication / Dispatcher

Emergency Dispatch Comunication: Pusat Penerima dan Distribusi Informasi
Komponen paling vital pada fase pra-Fasyankes adalah adanya pusat komunikasi/emergency dispatch communication yang berperan dalam mengumpulkan informasi dari first responder, memberikan bimbingan pertolongan pertama bagi korban, distribusi informasi kepada tim ambulans dan rumah sakit. Dispatcher berperan dalam mencari rumah sakit yang terdekat dan sesuai dengan kebutuhan korban, sehingga korban dirujuk pada rumah sakit yang tepat. Selain itu, rumah sakit juga dapat mempersiapkan ruangan, peralatan maupun tenaga medis bagi korban yang akan dirujuk.
Dispatcher juga dapat berkoordinasi langsung dengan kepolisian, pemadam kebakaran ataupun BPBD setempat sesuai dengan kondisi kejadian.

3. Emergency Ambulance

Advanced Ambulance
Ambulans berfungsi untuk mendekatkan fasilitas gawat darurat ke penderita, sehingga ambulans yang digunakan harus minimal memiliki fasilitas untuk melakukan stabilisasi pada jalan napas, pernapasan dan sirkulasi korban (Basic Ambulance). Korban yang mengalami cedera yang serius ataupun mengalami serangan jantung sebaiknya menggunakan advanced ambulance yang memiliki peralatan lebih lengkap (mencakup peralatan untuk intubasi, monitor jantung, AED/defibrilator, dan obat-obatan emergency). Selain fasilitas, ambulans gawat darurat harus didukung oleh petugas terlatih (dokter, perawat, supir) dalam penanganan penderita gawat darurat.
Pelayanan kegawatdaruratan pra-rumah sakit mengacu pada protokol yang telah ditentukan. Hal tersebut merupakan aspek etik legal yang harus dijalankan oleh setiap petugas ambulans. Protokol tersebut mengacu pada Standar Operating Procedure (SOP) yang telah disusun oleh tim ahli sebagai offline medical direction. Sedangkan kasus-kasus khusus yang tidak tertuang dalam SOP, petugas lapangan akan diberikan bimbingan tindakan dan monitoring langsung dari dokter (online medical direction).


Fase Intra-Fasyankes, mencakup:

1. Ketersediaan Emergency Call Center
Keberadaan Emergency Call Center sangat vital dan menjadi jembatan antara fase pra-Fasyankes dan fase Fasyankes. Emergency Call Center mendapatkan informasi dari Dispatcher, sehingga rumah sakit dapat dengan cepat mempersiapkan kebutuhan ruangan, tim medis dan juga fasiltas/peralatan yang diperlukan.

2. Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan mencakup pelayanan di setiap ruangan, baik di IGD, Kamar Operasi, HCU, ICU, ICCU, maupun ruang perawatan. Masing-masing ruangan harus terintegrasi satu sama lain, dan memiliki fasilitas yang memadai. Kompetensi petugas medis harus disesuaikan dengan kebutuhan pada masing-masing ruangan.


Fase Antar-Fasyankes, mencakup:

1. Sistem Rujukan
Bila suatu Fasilitas Pelayanan Kesehatan tidak mampu untuk menangani korban gawat darurat karena kurangnya fasilitas ataupun SDM Kesehatan, maka Fasyankes tersebut harus melakukan rujukan ke rumah sakit yang memiliki grade lebih tinggi. Fasyankes tersebut harus memiliki sistem rujukan yang baik sehingga proses rujukan korban dapat dilakukan dengan tepat, cepat, efektif dan efisien. Hal tersebut tentunya didukung oleh sistem komunikasi yang bagus.

2. Sistem Transportasi
Proses rujukan tentunya memerlukan sistem transportasi memadai. Penderita gawat darurat harus dievakuasi dengan menggunakan ambulans yang sesuai (basic hingga advanced ambulance) dan didukung oleh petugas terlatih. Bila fasyankes tidak memiliki fasilitas maupun SDM Kesehatan yang memadai untuk melakukan evakuasi pasien rujukan, fasyankes tersebut dapat menggunakan jasa pihak ketiga untuk melakukan evakuasi medis dengan menggunakan fasilitas lengkap dan petugas terlatih.



Ketiga fase di atas (fase Pra-Fasyankes, Fasyankes dan antar Fasyankes), harus terintegrasi sehingga pertolongan pada penderita gawat darurat dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. SPGDT yang berjalan dengan baik dapat menurunkan tingkat kecacatan maupun kematian pada penderita gawat darurat. Diperlukan adanya kerja keras dan keseriusan dari semua komponen untuk dapat mewujudkan SPGDT yang baik di Indonesia.

SPGDT: Integrasi seluruh komponen, mulai dari Fase Pra-Fasyankes, Intra-Fasyankes dan Antar-Fasyankes

Penulis: Hellda


Referensi:

Masrifahati, Titi. SPGDT Pra Rumah Sakit. 2016.

Pro Emergency. Basic Trauma Life Support. 2015.