Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Our Training Program. National & International Sertification. High Skill & Knowledge.

Selasa, 07 Juni 2016

Perawat Indonesia di Era MEA, Apa Persiapan Anda?


Perawat merupakan salah satu profesi yang masuk dalam 8-daftar profesi prioritas di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal tersebut berdasarkan hasil kesepakatan Mutual Recognition Arrangements (MRA) yang telah ditandatangani oleh negara-negara ASEAN. Sebetulnya jauh sebelum era MEA, perawat Indonesia sudah banyak yang bekerja di luar negeri, diantaranya Jepang, Dubai, Timur Tengah, Eropa, Australia, Amerika Seikat, dan Kanada. Perawat Indonesia banyak disukai di luar negeri, banyak yang membutuhkan karena cara kerjanya yang bagus, disiplin kerja yang tinggi dan attitude yang baik. Hal ini terbukti dengan tingginya permintaan tenaga perawat Indonesia. Dalam hal ini, perawat Indonesia tidak perlu cemas untuk bisa beradaptasi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), karena hal tersebut sebetulnya sudah dimiliki. Hanya saja, kita perlu untuk terus meningkatkan kompetensi baik dalam hal pengetahuan, keterampilan dan juga bahasa. Kompetensi tersebut yang sering menyebabkan perawat gagal dalam mengikuti ujian sertifikasi internasional. Sehingga walaupun permintaan tenaga perawat untuk bekerja di luar negeri cukup tinggi, namun kuota yang dapat dipenuhi masih seringkali tidak tercapai.

Pada program Government to Government (G to G) Jepang tahun 2015, Indonesia mendapatkan kuota untuk perawat sebanyak 348. Namun yang dapat dipenuhi hanya 292 perawat (80%). Padahal pendaftar lebih banyak yaitu mencapai 600 orang dari kuota yang disediakan. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), permintaan tenaga perawat untuk bekerja di luar negeri selama tahun 2010 – 2014 adalah sebanyak 15.431 orang. Dari jumlah tersebut baru terpenuhi sebesar 36%. Sementara itu, dari jumlah produksi perawat tahun 2014, sekitar 60% diantaranya didayagunakan di dalam negeri, 5% di luar negeri dan sisanya bekerja di luar kompetensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendayagunaan tenaga perawat Indonesia masih belum optimal. Masih diperlukan kerja keras untuk meningkatkan pendayagunaan tenaga perawat ke luar negeri dengan tetap memperhatikan kebutuhan di dalam negeri.

Era MEA, akan memberikan dua mata pisau  bagi wajah keperawatan Indonesia. Di satu sisi, MEA akan menjadi tantangan tersendiri bagi para perawat Indonesia. Tantangan untuk dapat bersaing dari berbagai aspek, mulai dari pendidikan, pengetahuan, keterampilan baik dalam hal hardskill maupun softskill. Keterampilan hardskill mencakup tindakan-tindakan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan bagi pasien, sementara softskill adalah keterampilan dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan pasien, rekan kerja dan lingkungan. Perawat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kultural. Sehingga tidak terjadi syok budaya pada saat bekerja di luar negeri ataupun memiliki rekan kerja yang berasal dari luar negeri. Jika kita tidak mampu bersaing pada aspek-aspek tersebut atau ada salah satu aspek yang tidak dapat dicapai, maka MEA akan menjadi ancaman tersendiri. Banyak investor-investor asing yang ingin berinvestasi di Indonesia, salah satunya adalah sektor pelayanan kesehatan. Tentunya pengadaan pelayanan kesehatan tersebut akan memiliki standar tertentu mulai dari fasilitas, pelayanan hingga sumber daya manusia. Untuk bekerja di fasyankes-fasyankes, Perawat Indonesia akan dihadapkan pada persaingan dengan perawat-perawat dari luar negeri (ASEAN). Dengan demikian jika ingin bersaing di era MEA, perawat harus terus meningkatkan kompetensi yang baik mulai dari sekarang. Peningkatan kompetensi tersebut dapat ditempuh melalui tiga aspek, yaitu pendidikan formal, pengalaman bekerja sebagai perawat maupun pendidikan non-formal.

Pendidikan formal merupakan jalur utama diakuinya seseorang sebagai seorang perawat. Pendidikan formal memberikan bukti legal seorang perawat. Mengikuti pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi akan meningkatkan wawasan dan kematangan dalam berpikir dan bersikap. Pengalaman bekerja penting untuk mengasah keterampilan dalam memberikan tindakan keperawatan asuhan keperawatan bagi pasien. Sementara pendidikan non-formal (kursus/pelatihan-pelatihan), merupakan hal yang sangat penting diikuti oleh seorang profesional. Tidak semua ilmu bisa kita dapatkan melalui pendidikan formal dan tidak semua keterampilan bisa kita dapatkan melalui pengalaman. Melalui pendidikan non-formal, seorang profesional bisa mendapatkan keduanya dalam waktu yang sangat singkat. Perawat yang sering mengikuti kursus/pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan area kerjanya akan memiliki nilai plus dibandingkan dengan perawat yang jarang mengikuti pelatihan. Dengan mengikuti pelatihan, update ilmu terbaru akan didapatkan serta akan meningkatkan kepercayaan diri dalam melakukan tindakan keperawatan. Hal tersebut dikarenakan perawat yang sering mengikuti pelatihan yakin dengan tindakan yang dilakukannya karena sudah sesuai dengan protokol terbaru yang didapatkan melalui pelatihan.


Bila ketiga aspek tersebut telah terpenuhi, langkah selanjutnya adalah terus meningkatkan wawasan dan update informasi mengenai keperawatan dan tenaga perawat, meningkatkan kemampuan ber-Bahasa Inggris serta berlatih/mempelajari materi yang diujikan dalam sertifikasi internasional, sehingga kita mengetahui standar kompetensi internasional bagi perawat. 

Penulis: hellda